Contoh berikut ini mengikuti pendapat Imam Syafi’i

misal, ada seorang wanita mengeluarkan darah selama 17 hari dengan 2 jenis darah yang berbeda, dengan perincian 10 hari pertama mengeluarkan darah merah kental, sedangkan  7 hari yang terakhir mengeluarkan darah merah encer.

Penentuan hukum

Kasus diatas bukan berarti 15 hari pertama dianggap haid kemudian 2 hari terakhir dianggap istihadhah. Tapi harus kita perhatikan mana yang termasuk darah kuat dan darah lemah. Karena darah merah kental lebih kuar dari darah merah encer, maka 10 hari yang pertama ditetapkan sebagai hari haid, sedangkan 7 hari berikutnya dianggap istihadhah.

Sifat darah dan tingkatannya

Sifat darah dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yang atas merupakan darah terkuat, selanjutnya disusul dengan sifat di bawahny. Keempat sifat itu adalah :

1.       Darah yang sifatnya sangat kental dan pekat

2.       Darah yang sifatnya kental

3.       Darah yang sifatnya encer

4.       Darah yang sifatnya sangat encer

5.       Tingkatan darah haid

Berdasarkan tingkatannya, darah haid terbagi dua, yaitu :

1.       Darah kuat

2.       Darah lemah

Misalnya darah merah hitam kental lebih kuat dari pada darah merah encer.

Waktu dan lamanya haid

1.       Usia minimal dan usia maksimal haid

Ulama’ berbeda pendapat dalam menetapkan batas minimal seseorang pertama kali mengalami haid (menarche). Namun jumhur ulama’ bersepakat 9 tahun kurang sedikit (tidak lebih dari 16 hari) sebagai batas awal masa haid. Untuk menghitung 9 tahun ini digunakan tahun Qamariyah (hijriyah). Jadi tidak boleh dihitung dengan tahun Syamsiyah (Masehi) karena selisihnya terlalu banyak.

Berikut ini penulis paparkan  tentang perbandingan perhitungan tahun  Hijriyah dan tahun Qamariyah :

9 tahun (H) = 8 tahun (M) + 8 bulan + 23 hari + 19 jam + 12 menit. Jadi seorang wanita memasuki umur haid minimal adalah = (8 tahun (M) + 8 bulan + 22 hari + 19 jam + 12 menit) – (16 hari) = 8 tahun (M) + 8 bulan + 7 hari + 19 jam + 12 menit).

Sedangkan batas akhir wanita mengalami haid (menopause), jumhur ulama’ bersepakat tidak ada batas maksimal/batas usia akhir terhentinya haid. Selama wanita itu masih hidup, maka masih mempunyai kemungkinan terjadi haid. Hanya saja kebanyakan wanita mengalami menopause sekitar umur 62 tahun.

Akibat hukum dan problematika darah haid

1.       Akibat hukum haid

Ulama’ Fiqh menyatakan ada 5 akibat hukum dengan datangnya haid bagi wanita, antara lain :

Seorang wanita dianggap telah baligh sehingga ia dianggap telah cakap bertindak hukum.

Haid dijadikan perhitungan lamanya masa iddah bagi wanita yang ditalak suaminya. Ini menurut Imam Hanafi dan Imam Maiki yang mengartikan al quru’ sebagai haid.

Haid menyebabkan seorang wanita wajib mandi setelah haidnya berhenti

Pertanda ketidak hamilan yang ditalak suaminya

Diwajibkan membayar kafarat bila terlanjur melakukan persetubuhan. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :

“Mengenai orang yang menyetubuhi istrinya yang sedang haid, Rasulullah bersabda orang itu wajib  memberikan shadaqah sebanyak satu dinar atau separo dinar”.

 

Amalan-amalan yang dilarang bagi wanita haid

Ulama’ fiqh menyatakan ada beberapa amalan/pekerjaan yang tidak boleh dilakukan wanita haid, yaitu :

1.       Shalat

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Tidak wajib bagi wanita haidl shalat dan tidak pula puasa”.

2.       Puasa

Membawa, menyentuh, dan membaca Al Qur’an

Hal ini berdasarkan QS. Al Waqi’ah ayat 79 :

“Tidak menyentuhnya, kecuali hamba-hamba yang disucikaa”.

3.       Memasuki masjid dan i’tikaf

Bersetubuh dan istimta’ (melakukan sesuatu yang menggairahkan nafsu di daerah sekitar pusar sampai lutut.

4.       Talak

Suami dilarang mentalak istrinya yang sedang haid. Hal ini berdasarkan Al Qur’an surat At Talak ayat 1 :

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istri, maka hendaklah kamu ceraikan mereka dapat menghadapi iddahnya (yang wajar)”.

5.       Thawaf

Hal ini berdasarkan hadits Nabi :

“Ketika kami di Wadi Sarif, aku mengalami masa haid. Kemudian  Rasulullah SAW bersabda ; “Kerjakanlah apa yang dilakukan oleh para jama’ah haji itu selain thawaf di Baitullah sampai kamu suci kembali”.

6.       Problematika haid

Hukum penggunaan alat pencegah haid

Di zaman modern, dunia mengeluarkan obat untuk menahan keluarnya haid, sehingga wanita itu bisa mengerjakan ibadah haji dan ibadah puasa Ramadhan secara sempurna tanpa harus menqadla’nya.

Dalam hal ini, Syaikh Mar’I bin Yusuf al Maqdisi dan Yusuf al Qardawi tokoh fiqh kontemporer berpendapat bahwa wanita yang mengkhawatirkan puasa dan hajinya tidak sempurna, maka ia boleh menggunakan obat untuk menunda haidnya. Alasan mereka adalah karena wanita itu sulit mengqadla (mengganti) pusasanya pada hari yang lain. Sedangkan larangan untuk penundaan haid itu tidak ada sama sekali dalam nash. Disamping itu, penundaan haid tersebut tidak membawa mudharat bagi wanita tersebut.

Sementara itu MUI (Majelis Ulama’ Indonesia) dalam sidang komisi fatwanya pada tahun 1984 menetapkan bahwa untuk kesempurnaan dan kekhusyu’an seorang wanita melaksanakan ibadah, maka :

Penggunaan pil anti haid untuk kesempurnaan haji hukumnya adalah boleh.

Penggunaan pil anti haid dengan maksud agar dapat menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh, pada dasarnya hukumnya makruh. Tetapi bagi wanita yang mengalami kesulitan untuk mengganti puasanya yang tertinggal di hari yang lain, maka hukumnya adalah boleh.

Penggunaan pil anti haid selain dari dua ibadah tersebut diatas, tergantung niatnya. Apabila untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, maka hukumnya haram.

Hukum penggunaan obat  perangsang haid seperti halnya pencegah/penundan, obat perangsang haid juga boleh digunakan, tetapi dengan dua syarat, yaitu :

Pemakai tidak mempunyai rencana negatif bahwa dengan menggunakan alat tersebut ia akan terhindar dari kewajibannya. Misalnya, seorang wanita menggunakan alat ini saat menjelang Ramadhan dengan tujuan agar di bulan tersebut ia tidak berpuasa dan tidak shalat.

Harus dengan izin suami jika telah bersuami.

Hal ini ditekankan karena dengan datangnya haid (yang dipaksakan) berarti telah mengganti jadwal suami untuk bersenggama.

Hikmah haid

Adanya haid seakan merupakan hambatan bagi wanita yang ingin melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Namun jika dikaji secara komprehensif, haid merupakan  anugerah Allah SWT yang khusus diberikan kepada kaum Hawa.

Segala sesuatu yang ditentukan Allah SWT pada hamba-Nya pasti mempunyai hikmah tersendiri, sekalipun manusia menyadari atau tidak. Haid misalnya, seakan-akan mendiskriminasikan eksistensi wanita, menjijikkan, bahkan menyebalkan, tetapi dibalik itu terdapat hikmah yang tiada taranya, diantaranya adalah :

Wanita dikodratkan mengandung dan melahirkan serta mengurus anak. Dengan haid, maka seorang wanita dapat melatih diri untuk hidup bersih dan disiplin yang selanjutnya dapat menagsuh anaknya dalam kondisi yang serba sehat, bersih, dan teratur.

Dalam proses reproduksi, suami memberikan sahamnya berupa sperma yang diberikan kepada istri, demikian pula istri memberikan sahamnya berupa sel telur. Perpaduan kedua jenis ini menghasilkan embrio. Embrio ini tidak dapat berkembang tanpa hormon tertentu. Hormon ini merupakan cikal bakal haid. Karena itu, dengan darah haid yang tidak keluar, embrio dapat berkembang menjadi bayi.

Haid sebagai pertanda adanya getaran cinta dan asmara bagi wanita.

Allah memberikan karakteristik kaum hawa serba pemalu sebagai penyeimbang bagi gejolak nafsunya yang tinggi. Dengan haid disetiap bulannya, maka seorang wanita mampu mengendalikan nafsunya karena haid secara tidak langsung telah membatasi kebebasan aktivitas wanita.

Sebagaimana hadits Nabi :

“Wanita diprioritaskan atas laki-laki 99 % kenikmatan (syahwat), hanya saja Allah memberikan karakteristiknya sifat malu”.

Sebagai pertanda penghabisan masa iddah bagi wanita yang ditalak suaminya, jika haid itu berlangsung 3 kali. Hal ini sesuai dengan Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 :

Haid sebagai pertanda wanita tersebut telah baligh dan telah sepantasnya dibebani ta’lif atas segala aktivitas yang dilakukan sekaligus membawa dampak hukum tersendiri.

Haid sebagai pertanda bahwa wanita itu sehat dan memungkinkan dapat memberkan keturunan.

Dengan haid, seorang suami tidak merasa bosan mengumpuli istrinya.

Seorang wanita yang menerima keadaan haid dengan ikhlas dan penuh tawakkal, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.