BAB I

PENDAHULUAN

 

Salah satu aliran teologi yang muncul pada abad pertama  hijriyah adalah aliran Murji’ah. Bahwa orang yang membawa paham ini adalah Gailan Ad Dimasyqi.

Munculnya aliran ini dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal khalifah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya khalifah Usman ibn Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk dinasti Umaiyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut, terjadi ditengah-tengah suasana pertikaian ini, muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan “Murji’ah”.

 

BAB II

ALIRAN DAN AJARANNYA

 

A.     Sejaran berdirinya/timbulnya aliran Murji’ah.

Aliran ini timbul di Damaskus pada akhir abad pertama hijriyah. Dinamai Murji’ah karena lafadz itu berarti menunda atau mengembalikan. Mereka berpendapat bahwa orang-orang yang sudah mukmin yang berbuat dosa besar, sehingga matinya tidak juga bertaubat, orang itu belum dapat kita hukum sekarang. Terserah atau ditunda serta dikembalikan saja urusannya kepada Alah SWT setelah hari kiamat.

Pendapat lain asal-usul atau timbulnya aliran Murji’ah adalah al-Irja’a yang mempunyai dua arti, yaitu :

1.        At Taakhir, yang artinya mengkemudiankan atau menunda. Pengertian ini menunjukkan bahwa aliran Murji’ah menunda amal dari niat.

2.        I’thoarojaah, maksudnya memberi pengharapan. Pengertian ini menunjukkan bahwa iman seseorang itu tidak rusak karena perbuatan dosa, begitu pula perbuatan kafir tidak merusak ketaatan.

Paham ini lahir pada mulanya karena persoalan politik. Setelah Usman bin Affan mati terbunuh dan diganti oleh Ali. Aliran ini lahir setelah peperangan Siffin yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dan peperangan tersebut sebenarnya dimenangkan oleh Ali, tetapi karena liciknya politikus Mu’awiyah, dia segera menganjurkan tentara perangnya untuk mengangkat Al Qur’an diujung tombaknya sebagai tanda damai. Dari perdamaian itu muncul kelompok-kelompok dan diantara kelompok-kelompok tersebut ada yang tidak mau campur tangan dan kelompok itu dinamakan kelompok atau aliran Murji’ah.

B.      Tokoh dan perkembangannya

Tokoh dalam aliran Murji’ah yang ekstrim ini adalah antara lain Jahm bin Sofwan, Ubaid al Muktaib, dan Muhammad bin Karram. Para pengikut mereka disebut Al Jahmiyah, Al Ubaidiyah, dan Al Karamiyah. Jahm bin Sofwan berpandangan bahwa orang yang telah beriman, meskipun kemudian menyembah berhala, tetap tidak bisa disebut kafir. Menurut mereka, iman terletak di hati dan tidak bertambah atau berkurang karena perbuatan. Belakangan paham ekstrim ini hanya diikuti sebagian kaum Murji’ah, sementara sebagian yang lain  berpegang ada pemikiran lebih moderat.

Golongan moderat Murji’ah berpandangan bahwa dosa besar seorang mukmin tidak menyebabkan orang kafir atau keluar dari Islam. Namun orang itu kelak akan menjalani hukuman atau siksa neraka sesuai dengan dosanya. Tokoh-tokoh dari golongan Murki’ah moderat yaitu Abu Yusuf, Hasan bin Muhammad bin Ali, bin Abi Thalib dan bahkan Imam Abu Hanifah.

Selain tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas, yaitu Yunus bin ‘Aun an Numaini yang disebut dengan kaum Yunusiyah. Dia berpendapat bahwa “iman” itu adalah mengenal Allah, dan menundukkan diri kepada-Nya serta meninggalkan rasa takabur dan mencintai-Nya dengan sepenuh hati. Apabila sifat-sifat itu telah terkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah mukmin.

C.     Ajaran Aliran Murji’ah

Sebagian dari ajaran-ajaran aliran Murji’ah itu berangapan bahwa iman itu mengenal kepada Allah dengan segala kelengkapannya tetapi hanya urusan hati saja. Untuk urusan lahiriyahnya (amal perbuatan) tidak termasuk jangkauan iman. Barang siapa iman tetapi melakukan dosa besar bagi mereka tetap mukmin dan hukumnya diserahkan kepada Allah. Menurut mereka, iman itu bertempat dalam hati sanubari, jadi mukmin yang tulen adalah mukmin dengan hati itu sekalipun nampaknya ia melahirkan kekafiran dengan lisannya.

Golongan ini tidak akan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga sebaliknya, tidaklah akan memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang terhadap kekafirannya. Artinya, tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang kafir. Oleh sebab itu, golongan ini sekali-kali tidaklah mau mengkafirkan seseorang yang telah masuk Islam, sekalipun bagaimana besarnya maksiat yang diperbuatnya, asal ia menganut agama Islam dan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Perbuatan maksiat dan dosa-dosa yang dikerjakannya itu terserah hukumnya kepada Allah SWT. Walaupun perbuatannya itu sampai akhir hayatnya tetap demikian, orang itu dihukumkan juga golongan mukmin yang sempurna imannya disisi Allah SWT.

Sebab itu, golongan Murji’ah ini sangat mementingkan kewajiban-kewajiban sesama manusia dari pada kewajiban terhadap agama, sekalipun ada nashnya dalam Al Qur’an. Mereka mengutamakan dan memberikan nilai yang tinggi kepada I’tiqod, bukan terhadap amalan-amalan lainnya dalam agama.

BAB III

ANALISIS

 

A.     Kelebihan dan kekurangan aliran Murji’ah

Kelebihan dari aliran ini adalah golongan ini tidak akan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga sebaliknya, “tidaklah akan memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang terhadap kekafirannya”. Artinya, tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang kafir. Maka dari itu, mereka tidak mau mengkafirkan seseorang yang telah masuk Islam, sebab golongan ini sagat mementingakan kewajiban sesama manusia.

Kekurangan aliran ini adalah lebih mementingkan urusan dunia dari pada akhirat. Karena menurut mereka, iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu yang menurut akal wajib dikerjakan. Berarti, kelompok ini mengakui adanya kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syariat.

Firman Allah SWT dalam surat Ar Ra’du ayat 28 :

الّذين امنوا وتطمئنّ قلوبهم بذكر الله قلى الا بذكر الله تطمئنّ القلوب

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram”.

Apabila seseorang sudah mempercayai Allah SWT dan rasul-rasul-Nya dan segala sesuatu yang datang dari Allah SWT, berarti ia mukmin meskipun ia menyatakan dalam perbuatannya hal-hal yang bertentangan dengan imannya. Seperti berbuat dosa, menyembah berhala, dan minum-minuman keras. Golongan ini juga meyakini bahwa surga dan neraka itu tidak abadi, karena keabadian hanya bagi Allah SWT semata.

Firman Allah SWT dalam surat Al Anfal ayat 2 disebutkan :

واذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا (الانفال : 2)

Artinya : “Dan apabila dibacakan terhadap ayat-ayat-Nya, maka ayat-ayat itu menambah iman mereka”. (Al Anfal : 2).

 

 

B.      Pengaruh faham aliran Murji’ah di masyarakat

Faham aliran murjiah di masyarakat juga ada baiknya, karena aliran ini sangat mementingkan kehormatan, kebaikan tehadap sesama manusia. Disisi lain, aliran ini juga ada negatifnya yaitu masalah keimanan seseorang. Karena menurut  mereka iman hanyalah meyakini dalam hati saja. Walaupun perbuatan-perbuatan yang dilakukan melanggar syariat Islam, tetapi kalau hatinya iman, aliran tersebut masih mengatakan orang itu mukmin.


BAB IV

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan

Dari beberapa pendapat yang telah disampaikan diatas bahwa aliran Murji’ah yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang masih beriman, berarti dia tetap mukmin, bukan kafir walaupun ia melakukan dosa besar. Adapun hukuman bagi dosa besar itu terserah kepada Tuhan, akan diampuni atau tidak. Dan dikatakan Murji’ah karena ada sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah