BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Agama merupakan suatu pedoman hidup yang menuntun umatnya untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di kehidupan yang akan datang nanti. Dan Allah yang menciptakan manusia dengan berbagai macam suku, budaya, dan adat-istiadat itu supaya saling tolong-menolong. Dalam hal ini, tolong-menolong tidak hanya dilakukan sesama umat Islam, akan tetapi dapat dilakukan oleh semua makhluk yang ada di dunia ini. Salah satu bentuk tolong-menolong yaitu dilakukan dengan cara pinjam-meminjam, sewa-menyewa, dan berbagai cara yang lain. Tolong-menolong sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap makhluk yang ada di dunia ini tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.

 

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan diuraikan dalam makalah yang berjudul “Ariyah” tersebut antara lain tentang :

1.       Apakah yang dimaksud dengan Ariyah?

2.       Bagaimanakan hukum Ariyah?

 

1.3 Tujuan

Tujuan mempelajari makalah ini adalah :

1.       Memenuhi tugas mata kuliah.

2.       Menambah wawasan bagi pembaca.

3.       Dapat mengetahui pentingnya pinjam-meminjam dalam kehidupan sehari-hari.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Pengertian Ariyah

Pengertian Ariyah menurut bahasa adalah pinjaman. Dalam pelaksanaannya, Ariyah diartikan sebagai perbuatan memberikan milik untuk sementara waktu oleh seseorang kepada pihak lain. Pihak yang menerima pemilikan itu diperbolehkan untuk memanfaatkan serta mengambil manfaat dari barang yang diberikan itu tanpa harus membayar imbalan. Dan pada waktu tertentu, penerima harta itu wajib  mengembalikan  harta yang diterimanya itu kepada pihak pemberi.

Sedangkan ulama’ mendefinisikan Ariyah itu sebagai pembolehan oleh seseorang untuk memanfaatkan harta miliknya oleh orang lain tanpa diharuskan memberi imbalan.

Ariyah termasuk salah satu transaksi tolong-menolong yang “murni” yang terlepas dari unsur komersial. A meminjamkan sejumlah uang kepada B, umpamanya adalah didasarkan atas niat menolong secara lahiriyah. A meminjamkan uangnya itu memberikannya kepada B tanpa meminta suatu imbalan material. Kenyataan itu terlihat bahwa B sebagai pihak peminjam tidak diwajibkan secara material membayar  lebih ketika mengembalikan uang yang dipinjamnya itu kepada A dan bahkan B itu secara leluasa diberi wewenang untuk memanfaatkan uang itu.

 

2.2 Dasar Hukum Ariyah

Dasar hukum Ariyah adalah anjuran agama supaya manusia hidup tolong-menolong serta saling bantu-membantu dalam lapangan kebajikan. Firman Allah SWT :

وتعاونوا على البرّ والتّقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

Artinya : “Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu bantu-membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan”.

Sedangkan dalil yang terdapat dalam hadits yaitu :

مطّل الغنيّ ظلم

Artinya : “Orang kaya yang memperlambat (melalaikan) kewajiban membayar hutang adalah dzalim (berbuat aniaya)”.

Hukum Ariyah bisa menjadi wajib atas seseorang yang mempunyai kelebihan harta untuk meminjamkannya kepada orang yang amat membutuhkan, yang bila orang itu tidak diberi pinjaman, menyebabkan ia teraniaya atau akan berbuat sesuatu yang dilarang agama. Seperti ia akan mencuri karena ketiadaan biaya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, jika seseorang memberikan pinjaman yang dengan meminjamkannya itu ia bermaksud menganiaya peminjam atau peminjam itu akan memanfaatkan barang yang dipinjamnya itu untuk berbuat maksiat, maka hukum Ariyah menjadi haram.

Rukun Ariyah yaitu :

a).     Adanya pihak yang meminjamkan

b).     Adanya pihak yang dipinjamkan

c).     Adanya obyek yang dipinjamkan

d).    Adanya akad pinjam-meminjam

Berkaitan dengan obyek yang menjadi sasaran transaksi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

a).     Harta yang dipinjamkan itu mestilah milik atau harta yang berada dibawah kekuasaan orang yang meminjamkan.

b).     Obyek yang dipinjam itu mestilah sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Kegiatan Ariyah bukanlah pemindahan hak milik, tetapi hanya keizina nuntuk memanfaatkan barang pinjaman pihak peminjam untuk sementara waktu. Bila pihak peminjam telah mendapatkan manfaat dari harta yang dipinjamnya, atau telah sampai jangka waktu peminjaman yang ditentukan ketika akad, maka ia berkewajiban mengembalikan barang yang dipinjamnya kepada pemiliknya. Rasulullah bersabda :

الماريّة مؤدّة

Artinya : “Barang yang dipinjam itu wajib dikembalikan”. (HR. Abu Daud Turmudzi).

Bila seseorang tidak mengembalikan pinjamannya atau menunda waktu pemulangannya, berrarti ia telah berbuat khianat serta berbuat maksiat kepada pihak yang sudah menolongnya.

Menurut ketentuan agama, pihak peminjam tidak hanya sekadar wajib mengembalikan pinjamannya, tetapi ia juga wajib memelihara barang pinjamannya itu selama dalam tanggungannya. Bila barang itu rusak atau hilang yang disebabkan kelalaiannya, maka ia wajib menggantinya atau memperbaikinya.

Dalam suatu riwayat Rasulullah SAW bersabda :

على اليد ما اخذت حتّى تؤدّي

Artinya : “Pemegang berkewajiban memelihara apa yang sudah ia terima sampai benda itu dipulangkan kembali kepada pemiliknya”.

 

BAB II

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari penjelasan didepan data saya simpulkan bahwa yang dimaksud dengan Ariyah adalah perbuatan memberikan milik untuk sementara waktu oleh seseorang kepada pihak lain. Pihak yang menerima  pemilikan itu diperbolehkan untuk memanfaatkan serta mengambil manfaat dari barang yang diberikan itu tanpa harus membayar imbalan. Dan pada waktu tertentu, penerima harta itu wajib mengembalikannya.

Rukun Ariyah (pinjam-meminjam), yaitu :

a).     Adanya pihak yang meminjamkan

b).     Adanya pihak yang dipinjamkan

c).     Adanya obyek yang dipinjamkan

d).    Adanya akad pinjam-meminjam

3.2 Saran

a).     Kita sebagai manusia harus saling pinjam-meminjam demi kemaslahatan bersama

b).     Setiap manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.