BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengetian

Puasa menurut bahasa adalah menahan dari segala sesuatu. Seperti menahan makan, minum, nafsu ,menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebgainya.

Menurut istilah Agama yaitu menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat.

Firman Allah SWT

وكلوا وشربوا حتّى يتبيّن لكم الخيط الابيض من الايط الاسواد من الفجر

( لبقرة : 187)

“ Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” ( Al – Baqoroh : 187 ).

 

B. Macam – Macam Puasa

1.      Puasa Wajib

Yaitu  puasa bulan ramadhan, puasa kafarat dan puasa nazar dengan salah satu ketentuan – ketenhtuan  berikut ini :

a.        Dengan melihat bulan bagi yang melhatnya sendiri.

b.       Dengan mencukupkan bulan sya’ban tiga puluh hari, maksudya ulan tanggal bulan sya’ban itu dilihat. Tapi kalau bulan tanggal satu sya’ bantidak terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan hitungan, sempurnanya 30 hari.

 

 

Sabda Rasulullah SAW :

 

صومو الرؤيته وافطروالرؤيته فان عمّ عليكم فاكملا عدّة شعبان ثلاثين (رزاه لبخرى)

“ Berpuasalah kamu sewaktu melihat bulan ( dibulan ramadhan ), dan berbukalah karena sewaktu melihat bulan ( dibulan syawal ). Maka jika ada ynag menghalangi ( mendung ) sehingga bulan tidak kelihatan, hendaklah kamu sempurnakan bulan sya’ban tiga puluh hari ( Riwayat Bukhari )

c.        Dengan adanya melihat (ru-yat) yang dipersasikan oleh orang yang adil di muka hakim.

d.       Dengan kabar mutawaatir, yaitu kabar orang banyak, sehimgga mustahil mereka akan sepakat berdusta.

e.        Dengan ilmu hisab ( ilmu bintang ).

2.         Puasa Sunat

Disunnahkan berpuasa pada hari – hari berikut ini :

1.        Hari Arafah, bagi orang yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, yakni pada tanggal 9 – 12 Dzulhijah.

2.        Hari ‘Asyura’ dan hari tasu’a yitu tanggal sepuluh dan tanggal sembilan dari bulan Muharram.

3.        Puasa enam hari pada bulan syawal.

4.        Puasa hari putih (ayyamul bidh) pada setiap bulan, yakni tangal tiga besar, empat belas dan lima belas.

5.        Puasa pada hari senin dan kamis

3.      Puasa Makruh

Dimakruhkan pada hari-hari berikut ini :

1.      Puasa arafah bagi orang-orang yang sedang melakukan wukuf, karena Nabi SAW melarang puasa arafah bagi siapa saja yang berada di arafah.

2.      Puasa yang dikhususkan pada hari jum’at dan sabtu saja.

3.      Puasa di akhir bulan sya’ban

Dimakruhkannya puasa dihari-hari tersebut sifatnya adalah makruh tanzih, yakni hasungan untuk menjauhinya sejauh-jauhnya. Adapun puasa  yang hukumnya makruh tahrim yakni yang diharamkan adalah :

1.      Puasa wishal, yakni puasa sambung selama dua hari atau lebih tanpa berbuka

2.      Puasa ada hari yang meragukan, yakni hari ketiga puluh darr bulan sya’ban.

3.      puasa sepanjang masa, yakni puasa sunnah setiap hari tanpa ada satu haripun yang tidak berpuasa

4.      Puasa seorang istri tanpa izin suaminya.

4.      Puasa Haram

Puasa diharamkan bila dilakukan pada hari-hari berikut ini :

1.      Puasa pada hari raya, baik idul fitri maupun idul adha

2.      Puasa pada hari-hari yang tasrik yang jumlahnya tiga hari

3.      Puasa pada saat mengalami haid atau nifas, karena adanya ijma’ ulama’ yang menegaskan batalnya puasa wanita yang sedang haid dan nifas.

4.      Puasa yang dilakukan oleh orang yang sedang menderita sakit

 

C. Boleh Berbuka

Orang-orang yang diperbolehkan berpuasa pada bulan Ramadhan adalah sebagai berikut :

1.      Orang yang apabila kuasa berpuasa atau apabila berpuasa maka sakitnya akan bertambah parah atau akan melambatkan sembuhnya menurut keterangan orang yang ahli dalam hal itu, maka orang tersebut boleh berbuka dan ia wajib mengqodlo’ apabila sudah sembuh, sedangkan waktunya sehabis bulan puasa nanti.

2.      Orang yang dalam perjalanan jauh (80, 640 km) boleh berbuka tapi wajib mengqodlo’ puasa yang ditinggalkannya itu.

3.      Orang tua yang sudah lemah, tidak kuat lagi melakukan puasa karena tuanya, atau lemah fisiknya, maka ia boleh berbuka dan ia wajib membayar fidyah ( bersedekah ) tiap hari ¾ beras atau yang sama dengan itu ( makanana yang meyenangkan ) kepada fakir dan miskin.

4.      orang ynga hamil dan orang yang menyusui. Kedua perempuan tersebut, kalau takut kalau akan menjadi madharat kepada dirinya beserta anaknya, maka boleh berbuka, dan mereka wajib mengqada sebagaimana orang yang sakit tapi kalau hanya takut pada anaknya maka keduanya boleh berbuka serta wajib qada dan wajib fidyah, tiap harinya ¾ liter.

Orang yang belum sempat menunaikan puasa untuk mengganti puasa ramadhan yang dia tinggalkan tanpa adanya undzur pada dirinya sampai tiba ramadhan berikutnya, maka maka dia wajib memberi makan orang miskin setiap hari puasa yang ditunaikan.

Orang yang meninggal dunia dari kalangan muslim, padahal dia masih memiliki hutang puasa, maka walinya wajib berpuasa untuk dia.

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

من مات وعليه صيام عنه وليّه ( رواه البخارى )

“Barang siapa yang mati sedangkan dia masih mempunyai tanggungan puasa maka walinya harus berpuasa untuk dia”. (Riwayat Bukhori)

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa :

1.      Pengertian

Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya fajar.

2.      Puasa ada empat macam :

a.        Puasa wajib

b.        Puasa sunnah

c.        Puasa makruh

d.       Puasa haram

B. Penutup

Alhamdulillah penulis ucapkan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna sebagaimana pepatah “tiada mawar yang tak berduri”. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik konstruktif demi makalah mendatang.

Tiada lupa penulis ucapkan terimakasih penulis tujukan kepada semua pihak yang telah menbantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Demikian yang dapat kami sajikan oleh penulis, atas kekhilafan dan kekurangan, penulis minta ampunan pada Allah SWT yang maha benar. Dan semoga karya ini dicatat sebagai amal yang shaleh yang berguna bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Amin……

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Jabir Al-Jazari. Terjemah kitab minhajul muslim (Surakarta : media insani publishing) cetakan 1, tahun. 2006.

H. Sulaiman Rasjid, fiqh islam (Bandung : sinar baru Algensindo) cetakan. 27, tahun 1994.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH

PENGARUH GERAKAN SHALAT TERHADAP KESEHATAN JASMANI DAN ROHANI

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Ushul Fiqih

Dosen Pengampu : Bpk. Ali Imron

 

Disusun oleh :

Siti Muzayanah

 

SEMESTER IV

JURUSAN TARBIYAH/PAI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

AL MUHAMMAD CEPU

TAHUN 2008-2009