BAB I

KONSEP TAWAKKAL

A. Pendahuluan

Kedudukan tawakkal tersusun dari ilmu, hal ihwal, dan amal perbuatan. Sesungguhnya ilmu itu asal pokoknya dan amal perbuatan itu sebagai buahnya.

Ihwal orang yang bertawakkal itu berbeda-beda dalam kuat ketenteraman dan kepercayaaannya dengan  terpaut dengan tidak terbatas sampai kepada martabat.[1]

Firman Allah SWT :

أولم تؤمن قال ولكن ليطمئنّ قلبي (البقرة : 26)

Artinya : Apakah engkau tidak beriman?, jawab Nabi Ibrahim : “Betul, akan tetapi untuk menenteramkan hatiku (QS. Al Baqarah : 26).

Untuk menarik kemanfaatan, ada sebab-sebab yang seperti digunakan untuk menarik kemanfaatan atas tiga derajat yaitu :

1.        Yang diputuskan yang disangka.

2.        Dengan sangkaan yang dapat dipercaya, dan

3.        Yang disangka dengan sangkaan ringan, tidak dapat dipercaya oleh diri dengan kepercayaan sempurna.

Sebab-sebab yang berkaitan dengan munasabah-munasabahnya dengan takdir Allah dan kedudukannya yang kaitannya banyak terjadi dan tidak berbeda.

B. Permasalahan mendasar

1.        Bagaimana Imam Ghazali menerapkan amal-amal orang yang bertawakkal?

2.        Mengapa tawakkal dapat dikatakan sebagai bukti nyata dari tauhid?

3.        Dilihat dari obyek menurut Muhammad bin Abdul Wahab membentuk beberapa obyek yang dinilai sangatlah penting?

C. Pembahasan

1.        Pengertian tawakkal

Tawakkal (التوكّل ) dibentuk dari kata  وكل yang artinya menyerah, mempercayakan, atau mewakili) urusan kepada orang lain).

2.        Hubungan tawakkal dengan iman

Menurut Muhammad bin Abdul Wahab, menyatakan tawakkal merupakan pekerjaan dari manusia dan puncak tertinggi keimanan. H. Amrullah menyatakan bahwa belum berarti pengakuan iman kalu belum tiba dipuncak tawakkal. Musa berkata : “Jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja jika kamu benar-benar berserah diri”.[2]

Dalam hal ini, Imam Ghazali menetapkan beberapa penerapan tentang orang-orang bertawakkal, yaitu :

a).     Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat kebudayaan.

b).     Berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya dari hal-hal yang bermanfaat.

c).     Berusaha menghilangkan madharat yang menimpa dirinya.

Firman Allah SWT :

وقال تعالى : انّما المؤمنون الّذين اذا ذكر الله وجلت قلوبهم واذا تليت عليهم زادتهم ايمانا وعلى ربّهم يتوكّلون

Artinya : Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila nama Allah disebut, maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka, maka bertambah iman mereka, serta mereka hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka (Allah)”.[3]

Tawakkal dapat dikatakan “seseorang yang mewakilkan urusannya kepada fulan dan ia berpegang kepada orang itu mengenai urusannya. Orang yang diserahi urusan tersebut disebut “wakil”, orang yang menyerahkan disebut “orang yang mewakilkan” kepadanya dan mewakilkan.[4]

Tawakkal dapat dikatakan sebagai bukti nyata dari tauhid karena seorang mukmin telah bertawakkal adalah berserah diri kepada Allah dan orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan berkeluh kesah dan gelisah. Ini adalah bukti nyata dari ketauhidan.

Dilihat dari obyek menurut Muhammad bin Abdul Wahab, ada dua bentuk sebagai berikut :

1).     Tawakkal kepada Allah SWT semata yakin menyerahkan diri segala urusan kepada Allah SWT.

2).     Bertawakkal selain kepada Allah SWT.[5]

Firman Allah SWT :

انّ الله تعالى ما أخذ وله ما اخطى وكلّ شيئ عنده يأجل مسمّى فلنعبر ولتحتسب

Artinya : Sesungguhnya hanya Allah-lah yang berhak mengambil dan hanya Dia-lah yang berhak memberi segala sesuatu telah dipergunakan ketentuannya, disisi-Nya, maka bersabarlah dan harapkanlah pehala-Nya.

D. Penjelasan

Bahwa Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu. Dia mengambil dan memberi tanpa ada yang menghalang-halanginya karena semuanya adalah makhluknya. Segala sesuatu yang berdasarkan oleh-Nya, bersabarlah dan bertaqwalah kepada-Nya.[6]

E. Kesimpulan

Hikmah dan keutamaan tawakkal antara lain :

1.        Membuat seseorang percaya diri dan memiliki keberanian menghadapi persoalan.

2.        Bahwa tawakkal itu tidak melakukan perbuatan maksiat, selalu menghindari diri dari larangan Allah SWT dan tawakkal itu ridho dan rela menerima segala ketentuan Allah SWT.

3.        Dan makna dari tawakkal itu sendiri adalah mencukupkan dengan sebab-sebab yang tersembunyi dari pada sebab-sebab lahiriyah dengan tenangnya jiwa kepada musababnya.

F. DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazali, Imam, Ihya Ulumudin, (Semarang : CV. Asy Syifa’, 1994).

Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru van Hoeve, 2001).

Shabat, Muslih, Drs, Terjemah Riyadhus Shalihin, (Semarang : Toha Putra, tt).

Al Hasyimi, Sayyid Ahmad, Sejarah Mukhtarul Ahadits, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, tt).

MAKALAH

KONSEP TAWAKKAL

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pendidikan Aqidah Akhlak

Disusun Oleh :

Fitri Maysaroh

SEMESTER IV

FAKULTAS TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

AL MUHAMMAD CEPU

2006


[1] Imam Al Ghazali, Ihya Ulumudin, (Semarang : CV. Asy Syifa’, 1994), hlm. 379 dan 401

[2] Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru van Hoeve, 2001), cet. 5, hlm. 1814

[3] Drs. Muslih Shabat, Terjemah Riyadhus Shalihin, (Semarang : Tohha Putra, tt), hlm. 94-95

[4] Loc. Cit, hlm. 378

[5] Ensiklopedi Hukum Islam, Op.Cit, hlm. 1816

[6] Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Sejarah Mukhtarul Ahadits, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, tt), cet. 1-5, hlm. 256