“… barang siapa bertakwa kepada Allah Swt niscaya Allah Swt memudahkan jalan keluar urusannya.

… barang siapa bertakwa kepada Allah Swt niscaya Allah Swt memberikan kemudahan baginya … (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4)

Manusia diwajibkan untuk berusaha mencari penghidupannya, mengais kepingan rizki dari Allah sembari memohon barokah atas rizki tersebut. Sekalipun buku langit sudah menuliskan batasan rizki tiap manusia, limpahan rahmat itu tidak akan turun dengan sendirinya bila tidak diusahakan. Semua adalah rahasia dan urusan Allah, sebagaimana jodoh dan mati. Berdoa tanpa berusaha hanya sia-sia karena tiada perubahan tanpa upaya. Yang paling benar adalah bertawakal, yaitu menyerahkan semuanya kepada Sang Pemberi Hidup setelah semua upaya dikerahkan.

Hidup ini episodik, saya yakin sekali beruas-ruas seperti bambu, tidak lurus mulus seperti sebatang tiang pancang beton. Ruas-ruas tersebut dipenuhi dengan pergiliran kehidupan antara kesempitan dan kelapangan. Saya meyakini hal ini, karena Allah menyebutkannya dalam sepotong ayat dalam QS. Al-Insyirah 5 – 6 … faa innama’al usri yusraan, innama’al usri yusraan ... sebuah kalimat yang sama diulang dua kali berturut-turut. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan.

Sekalipun tidak ada janji bahwa setelah ada kemudahan akan ada kesulitan, kita harus paham bahwa kesulitan pasti akan muncul sebagai kodrat kehidupan manusia. Setiap jengkal langkah kita untuk maju, dan berupaya menjadi insan kamil, pasti akan dihadang kesulitan. Kesulitan yang terbesar sebenarnya berada di dalam pikiran, bukan di luar diri kita. Bila terbiasa dengan harta yang cukup, ketika hilang sebagian kesedihan langsung menyergap. Padahal secara objektik sisa harta yang dimiliki masih jauh lebih banyak daripada milik seorang buruh pabrik. Sewaktu kehilangan kekasih, dunia seakan runtuh dan ingin mengakhiri hidup, padahal jodoh adalah urusan Allah. Ketika di PHK, ingin rasanya membunuh sang Manajer Personalia, padahal jalan rizki masih terbentang lebar asal dicari dengan sungguh-sungguh.

Saat menjalani kehidupan, tenggelam dalam sebuah episode kehidupan, saya kerapkali lupa bahwa saya sedang berada dalam sebuah episode. Bila tengah gembira, seolah lupa bahwa tiba-tiba Allah bisa menumbangkan kegembiraan itu ke jurang kesedihan. Bila sedang berduka, pesimis akan ada waktu lain untuk bangkit dan kembali bergembira. Manusia lebih mudah mengenali dukanya daripada gembiranya. Ketidak sedang berduka, terasa sekali keinginan untuk mengakhirinya dan untuk itu selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebaliknya, tatkala sedang bahagia, orang cenderung lupa bahwa perjalanan hidup di dunia ini semuanya nisbi. Tidak ada yang mutlak.

Kita pasti masih ingat berbagai wacana tentang orang-orang yang didakwa terlibat dalam gerakan PKI dan dipenjara tanpa pengadilan yang jelas. KTP mereka diberi tanda dan keluarga mereka secara otomatis terimbas stigma tahanan politik, dijauhi orang, dan tidak bisa memperoleh penghidupan sebagaimana orang lain pada umumnya. Setelah kejatuhan rezim Suharto, barulah kondisi berubah. Sementara Allah Swt meniadakan dosa turunan, mengapa manusia menciptakan aturan baru tentang dosa orang tua?

Kita juga belum lupa, bagaimana pejabat sipil, petinggi militer, anggota parlemen, menjadi impian bagi kebanyakan pemuda. Bukan mengimpikan untuk mengabdi kepada bangsa dengan benar, tetapi memperoleh harta dunia yang memabukkan. Pekerjaan di lembaga keuangan seperti BI, pajak dan bea cukai, industri strategis seperti Pertamina dan PLN, semuanya menggiurkan karena dianggap “basah”. Sekarang, berlandaskan itikad Pemerintah untuk menegakkan aparat yang bersih, KPK mengasah taring dan taji memberangus para tersangka korupsi. Era kegemilangan para benalu bangsa sudah mulai memudar.

Karena hidup ini adalah pergiliran, episodik seperti ruas-ruas bambu, sudah selayaknya bila kita tidak pernah lupa untuk bersyukur pada tiap jengkal rizki Allah. Kita dipersilakan untuk melakukan shalat Dhuha bila ingin kelimpahan rizki Allah, dan bayangan kita adalah gumpalan emas atau timbunan uang. Tapi, saya juga pernah membaca, seharusnya yang kita minta dalam shalat Dhuha adalah barokah rizki. Rizki tentunya semua hal yang datang kepada kita, kita duga maupun tidak, namun tidak semuanya barokah. Bila seseorang tidak pernah merasa cukup dengan rizki yang diterimanya, waspadalah dengan kebarokahan rizki yang diperolehnya. Barokahnya rizki membuat perasaan kita senang, sepiring nasi, sayur kangkung, dan sepotong tempe goreng membuat kita gembira, terlebih ketika anak-anak kita tersenyum ketika memakannya.

Kepedihan dan derita yang kita alami dalam kehidupan pasti bukan kebetulan. Seorang bijak mengatakan, tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah diatur dan menjadi bagian dari riwayat kita. Orang Barat mengatakan: what can not kill you will make you stronger. Saya pribadi mengatakan, Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, sekalipun mungkin dalam bungkus terburuk dan terpahit. Semua pengalaman yang tidak menyenangkan hanya akan meningkatkan imunitas tubuh kita.

Kalau sekarang kita sedang dalam kesulitan dan kesusahan, jangan bersedih, sebab pada saatnya nanti kita akan diberikan kegembiraan. Mungkin 1 tahun atau mungkin 3 tahun lagi, kita bisa bercerita pada orang lain bagaimana kita bisa bertahan dan menasihati mereka cara menyelesaikan masalah serupa itu.

Kalau sekarang kita sedang di puncak kegembiraan, tetap ingat bahwa jurang lebar penderitaan siap memakan kita tanpa ampun. Semakin kita lupa, lebih sakit rasa jatuh nanti. Kalau kita waspada, insyaallah kita bisa mempersiapkan perasaan ketika harus jatuh. Hidup ini bukan soal seberapa kuat kita menahan kejatuhan, karena cepat lambat akan terjadi. Tapi, bagaimana kita bangkit dan berjalan lagi setiap kali jatuh.

Sebagai penutup mari simak bunyi QS. Al-A’raf ayat 96: “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka medustakan (ayat-ayat itu), maka Kami sika mereka disebabkan perbuatannya”.

Semoga bangsa ini memang sedang menuju ke arah kedewasaan, meninggalkan segala kemungkaran karena menemukan cahaya kebenaran. Lalu, nestapa yang kita alami sekarang ini kemudian hanyalah sepenggal episode yang akan kita kenang dengan manis beberapa tahun mendatang. Insyallah.

Sumber : http://mercusuarku.wordpress.com/2008/08/12/rizki-allah/